February 16, 2026

sultaniyya

Platform Artikel Berita Paling Update & Lengkap

Tangis Tim SAR Pecah Usai Korban ATR Ditemukan

sultaniyya.org Suasana duka dan haru menyelimuti posko pencarian ketika kabar terakhir akhirnya diterima. Seluruh korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 yang sempat hilang kontak dinyatakan telah ditemukan. Dengan ditemukannya korban ke-10, operasi pencarian dan pertolongan yang berlangsung penuh tantangan itu resmi mencapai titik akhir.

Pesawat yang mengangkut penumpang dalam penerbangan menuju Makassar tersebut jatuh di kawasan pegunungan Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan. Medan yang ekstrem, cuaca yang berubah cepat, serta kondisi geografis yang sulit membuat proses evakuasi menjadi salah satu operasi SAR paling menguras fisik dan emosi.

Kabar ditemukannya korban terakhir menjadi momen yang tidak akan pernah dilupakan oleh seluruh personel yang terlibat.

Momen Haru di Posko Pencarian

Di posko utama, suasana mendadak hening ketika laporan dari tim lapangan diterima. Setelah berhari-hari berjibaku dengan alam, satu kalimat sederhana mengubah segalanya: korban terakhir telah ditemukan.

Tangis pun pecah. Beberapa anggota tim SAR terlihat menunduk, sebagian lainnya memejamkan mata, mencoba menahan emosi yang akhirnya tak terbendung. Kepala Seksi Operasi dan Siaga Kantor SAR Makassar, Andi Sultan, tampak tak kuasa menahan air mata.

Dalam rekaman yang dibagikan secara resmi, terlihat ia bersama personel SAR dan prajurit TNI AD bersujud, memanjatkan doa sebagai ungkapan syukur sekaligus penghormatan bagi para korban.

Perjalanan Panjang Operasi SAR

Operasi pencarian bukanlah tugas singkat. Sejak laporan pesawat hilang kontak diterima, tim gabungan langsung dikerahkan. Personel Basarnas, TNI, Polri, relawan, hingga masyarakat sekitar turut bahu-membahu.

Gunung Bulusaraung dikenal memiliki kontur terjal dengan jalur sempit dan vegetasi lebat. Untuk mencapai titik lokasi, tim harus berjalan berjam-jam, menembus hutan, menuruni jurang, serta menghadapi cuaca yang kerap berubah drastis.

Setiap langkah mengandung risiko, namun semangat kemanusiaan menjadi bahan bakar utama para petugas.

Tantangan Alam yang Menguras Tenaga

Cuaca berkabut sering menghambat jarak pandang. Hujan yang turun tiba-tiba membuat jalur licin dan berbahaya. Proses evakuasi jenazah harus dilakukan dengan sangat hati-hati agar tidak membahayakan petugas.

Peralatan evakuasi pun terbatas oleh medan. Dalam beberapa titik, jenazah harus dibawa secara manual menggunakan tandu melewati jalur ekstrem.

Meski kelelahan fisik terus menggerogoti, tidak satu pun petugas menyerah. Setiap korban dianggap sebagai amanah yang harus dipulangkan dengan hormat kepada keluarga.

Ikatan Emosional yang Terbangun

Selama operasi berlangsung, ikatan emosional tumbuh kuat di antara tim SAR. Mereka bukan hanya bekerja sebagai rekan satu tugas, tetapi menjadi keluarga yang saling menguatkan.

Setiap keberhasilan menemukan korban disertai perasaan campur aduk: lega karena tugas terlaksana, namun sedih karena kenyataan yang harus diterima.

Bagi tim SAR, menemukan korban dalam kondisi meninggal dunia tetap menjadi keberhasilan kemanusiaan, karena memberi kepastian bagi keluarga yang menanti kabar.

Air Mata Andi Sultan

Tangis Andi Sultan menjadi simbol betapa berat beban emosional yang dipikul petugas SAR. Di balik seragam dan profesionalisme, mereka tetap manusia yang memiliki empati.

Ia mengungkapkan bahwa seluruh tim telah berupaya maksimal. Penemuan korban terakhir menjadi akhir dari penantian panjang yang penuh doa dan harapan.

Air mata yang jatuh bukan hanya karena lelah, tetapi karena rasa hormat terhadap nyawa yang telah pergi dan perjuangan yang telah dilalui bersama.

Dukungan Masyarakat Sekitar

Masyarakat sekitar lokasi turut memberikan bantuan selama operasi berlangsung. Mereka membantu menunjukkan jalur, menyediakan logistik, hingga menjadi relawan pendamping.

Keterlibatan warga memperlihatkan kuatnya solidaritas sosial saat bencana terjadi. Kerja sama antara aparat dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan misi kemanusiaan tersebut.

Tanpa dukungan warga lokal, proses pencarian dipastikan akan jauh lebih sulit.

Penutupan Operasi dengan Penghormatan

Setelah seluruh korban ditemukan, tim SAR menutup operasi dengan upacara penghormatan. Doa bersama dipanjatkan sebagai bentuk empati kepada keluarga korban.

Jenazah kemudian diserahkan kepada pihak berwenang untuk proses identifikasi dan pemulangan kepada keluarga masing-masing.

Momen tersebut menjadi penegasan bahwa setiap korban diperlakukan dengan penuh martabat.

Luka yang Tersisa

Meski operasi telah selesai, luka emosional tetap tertinggal. Bagi keluarga korban, kepastian menjadi awal dari proses berduka yang panjang.

Bagi tim SAR, kenangan akan operasi ini akan selalu melekat. Setiap misi kemanusiaan meninggalkan jejak mendalam yang tak mudah dilupakan.

Namun di balik duka, ada kebanggaan karena tugas kemanusiaan telah ditunaikan sepenuh hati.

Penutup

Penemuan seluruh korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 menjadi akhir dari pencarian panjang yang penuh perjuangan. Tangis yang pecah di posko bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti ketulusan dan kemanusiaan para petugas yang telah bekerja tanpa mengenal lelah.

Di tengah medan berat dan kondisi ekstrem, tim SAR menunjukkan bahwa empati dan dedikasi masih menjadi nilai tertinggi dalam setiap misi penyelamatan. Peristiwa ini akan dikenang bukan hanya sebagai tragedi, tetapi juga sebagai kisah kemanusiaan yang menyatukan banyak hati.

Cek Juga Artikel Dari Platform radarjawa.web.id